Purwokerto – Literasi kerap dipahami secara sempit sebagai kemampuan membaca dan menulis. Padahal, sejatinya literasi merupakan proses panjang yang tumbuh dari pengalaman, kebiasaan berpikir, serta cara manusia memaknai realitas di sekitarnya. Dalam kehidupan sehari-hari, literasi hadir tidak hanya melalui buku, tetapi juga melalui dialog, catatan, dan refleksi atas informasi yang diterima.
Pendiri Pustaka Devata, Hana Anindya, menilai bahwa literasi tidak dapat dilepaskan dari tanggung jawab intelektual. “Literasi bukan hanya soal membaca teks, tetapi bagaimana seseorang memahami, mengolah, dan bertanggung jawab atas pengetahuan yang ia terima,” ucapnya. Menurutnya, buku menjadi sarana penting, namun bukan satu-satunya ruang tumbuhnya literasi.
Ia menjelaskan bahwa praktik literasi kerap berkembang melalui hal-hal sederhana, seperti kebiasaan mencatat gagasan, berdiskusi, serta mempertanyakan informasi. Proses tersebut sering kali tidak disadari sebagai bagian dari literasi karena berlangsung secara informal dan menyatu dengan keseharian masyarakat.
Secara tidak langsung, pandangan tersebut menegaskan bahwa literasi seharusnya tidak diposisikan sebagai aktivitas eksklusif yang hanya berlangsung di ruang akademik. Literasi justru hidup di tengah masyarakat, mengikuti konteks sosial, budaya, dan pengalaman masing-masing individu.
“Ketika seseorang terbiasa berpikir kritis terhadap apa yang ia baca dan alami, di situlah literasi bekerja,” ucap Hana. Ia menambahkan bahwa membaca dan menulis pada akhirnya menjadi alat untuk memperdalam kesadaran, bukan tujuan akhir dari literasi itu sendiri.
Di tengah derasnya arus informasi digital, literasi memiliki peran penting dalam membantu masyarakat memilah dan memahami informasi secara lebih bertanggung jawab. Kemampuan tersebut dinilai menentukan bagaimana pengetahuan dibangun dan dipahami secara berkelanjutan.
Melalui pemahaman tersebut, literasi diharapkan tidak lagi dipandang sebagai aktivitas sesaat, melainkan sebagai proses hidup yang terus bergerak dan membentuk nalar kritis masyarakat.
Penulis: Salsabilla