- Sinopsis:
Di tengah arus modernitas yang bergerak semakin cepat, banyak yang bertanya: masih relevankah bicara tentang budaya? Buku ini menjawab dengan tegas justru di sinilah percakapan itu paling mendesak. Merawat Nilai dalam Ruang Budaya mengajak pembaca memahami bahwa kebudayaan bukan sekadar koleksi benda tua di balik kaca museum, melainkan sistem nilai yang hidup dan terus bekerja dalam keseharian manusia. Melalui kajian atas dua ruang budaya yang berbeda karakter namun saling melengkapi Museum Sonobudoyo Yogyakarta yang menyimpan ribuan artefak peradaban Nusantara, dan Omah Petroek yang tumbuh sebagai laboratorium keberagaman di lereng Merapi buku ini menelusuri bagaimana sebuah ruang dapat menjadi tempat pendidikan, pembentukan karakter, dan perjumpaan antar nilai yang berbeda.
Pembaca akan diajak memahami wayang bukan sekadar boneka kulit, melainkan sebagai sistem filsafat moral yang diwariskan lintas generasi. Keris bukan sekadar senjata, melainkan perwujudan pengetahuan metalurgi, spiritualitas, dan tanggung jawab sosial pembuatnya. Dan museum bukan sekadar gudang benda bersejarah, melainkan ruang pembelajaran yang justru paling relevan di era ketika manusia kehilangan kontak dengan akar tradisinya. Buku ini juga menggali dimensi toleransi dan spiritualitas yang hadir bukan dalam khotbah formal, melainkan dalam simbolisme ruang, dalam dialog seni, dan dalam semangat komunitas yang memilih bekerja bersama melampaui perbedaan. Pemikiran tokoh-tokoh seperti Gus Dur dan Jakob Oetama dihadirkan bukan sebagai hagiografi, tetapi sebagai lensa untuk membaca tantangan kehidupan sosial masa kini. Ditulis dengan pendekatan yang memadukan kajian budaya, teori komunikasi, dan semiotika, buku ini cocok menjadi referensi bagi mahasiswa ilmu komunikasi, pendidikan, antropologi, dan kajian budaya, sekaligus bacaan yang bermakna bagi siapa saja yang percaya bahwa merawat nilai bukan urusan masa lalu melainkan pekerjaan yang paling penting hari ini.









