Di tengah gemuruh industri buku yang semakin komersial, lahirlah Pustaka Devata, sebuah penerbit independen yang memilih jalan sunyi, merawat sastra dan menyuarakan yang tak terdengar. Berangkat dari semangat untuk memberi tempat bagi tulisan-tulisan yang jujur, berani, dan sering kali luput dari sorotan pasar, Pustaka Devata menghadirkan ruang baru bagi para penulis yang menulis bukan sekadar untuk laku, melainkan untuk menyentuh dan menggugah.

Didirikan oleh Hana Anindya, seorang pecinta sastra dan aktivis literasi, Pustaka Devata ingin menjadi jembatan antara penulis dengan pembaca yang merindukan bacaan bermutu dan menggugah. 

“Kami percaya bahwa setiap suara memiliki nilai, terlebih dalam sastra. Pustaka Devata hadir untuk merawat keragaman ekspresi dan memberi tempat bagi karya-karya yang lahir dari keresahan, cinta, dan keberanian,” ujar Hana.

Hana menyampaikan Pustaka Devata tidak hanya menerbitkan buku, tetapi juga aktif menyelenggarakan program diskusi sastra, lokakarya menulis, dan forum kritik sastra. Fokus utamanya adalah membangun ekosistem sastra yang sehat dan inklusif, dengan menjangkau komunitas-komunitas di luar arus utama penerbitan nasional.

“Kami ingin menyuarakan yang selama ini tak terdengar. dan tidak terlalu tersentral pada pasar tres semata,” tambah Hana.

Hana juga menyampaikan harapannya kehadiran Pustaka Devata dapat disambut positif oleh berbagai kalangan pegiat literasi, dan bisa menjadi nafas baru dalam dunia perbukuan. Dengan pendekatan yang lebih personal dan idealis, Pustaka Devata menjadi harapan baru bagi para penulis muda dan pembaca sastra yang mendambakan keberagaman perspektif.

Sebagai langkah awal, Pustaka Devata membuka pengiriman naskah secara daring dan memberi ruang bagi penulis pemula untuk berkonsultasi langsung dengan editor. Inisiatif ini menunjukkan komitmen mereka untuk menciptakan hubungan yang akrab antara penulis dan penerbit.