Dalam lanskap penerbitan Indonesia yang kian dinamis, kehadiran pemain baru selalu menjadi angin segar. Salah satunya adalah Penerbit Pustaka Devata, penerbit independen yang baru saja memulai langkahnya di awal tahun 2025 dan langsung mencuri perhatian dengan pendekatannya yang segar dan berani terhadap literasi.

Meski tergolong pendatang baru, Pustaka Devata hadir dengan visi besar: membangun ruang penerbitan yang inklusif, progresif, dan berpihak pada kualitas naskah. Fokus utama penerbit ini adalah pada karya-karya yang menampilkan kekayaan pemikiran lokal, suara yang kerap luput dari arus utama, serta narasi yang mampu mengajak pembaca merenung dan berdialog.

“Pustaka Devata tidak hanya ingin menerbitkan buku, tapi juga membangun percakapan. Kami ingin menjadi jembatan antara penulis-penulis yang jujur dengan pembaca yang haus akan makna,” ujar Hana Anindya, pendiri Penerbit Pustaka Devata dalam sesi bincang media di Jakarta.

Fokus dari Pustaka Devata tidak hanya tertuju pada satu genre saja tetapi berbagai genre, mulai dari kumpulan cerpen, esai budaya, hingga novel berlatar sejarah lokal. Menariknya, sebagian besar penulis yang bergabung merupakan nama-nama baru yang sebelumnya belum pernah dipublikasikan secara luas.

Pustaka Devata juga mulai membangun ekosistem digital melalui platform daring dan media sosial. Dengan memanfaatkan teknologi, mereka bertekad menjangkau pembaca muda yang terbiasa membaca secara digital, tanpa menghilangkan sentuhan personal dari buku fisik.

“Dunia penerbitan tidak harus eksklusif. Kami percaya bahwa setiap suara layak mendapat panggung jika disampaikan dengan jujur dan penuh dedikasi,” pungkas Hana.

Meski baru melangkah, kiprah awal Pustaka Devata mencerminkan semangat baru dalam industri yang kerap dipandang stagnan. Dengan semangat kolaboratif, fokus pada konten berkualitas, dan komitmen terhadap keberagaman, Pustaka Devata menunjukkan bahwa penerbit baru pun bisa memberi warna berbeda dalam peta penerbitan Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published.