Dalam lanskap industri buku yang terus berkembang, kepercayaan dan kualitas menjadi dua pilar penting yang seringkali diabaikan demi mengejar tren pasar. Namun, sebuah penerbit baru bernama Pustaka Devata justru memilih untuk menjadikan kedua prinsip itu sebagai pondasi utama dalam membangun eksistensinya. Meski belum menerbitkan satu pun buku, Pustaka Devata menunjukkan bahwa proses branding dan pembangunan identitas penerbit bukan semata soal popularitas, tetapi juga tentang nilai yang dibawa sejak awal.

Pustaka Devata hadir sebagai bentuk respon terhadap kegelisahan banyak penulis yang merasa kurang mendapat ruang yang adil dan berkualitas untuk mengembangkan karya. Terinspirasi dari filosofi budaya dan literasi yang berakar kuat di Nusantara, penerbit ini bertekad menjadi rumah kreatif yang menghargai proses, bukan hanya produk akhir. Komitmen ini tercermin dari sistem kurasi naskah yang berfokus pada kualitas isi, keaslian ide, dan dampak jangka panjang terhadap pembaca.

“Kami ingin menjadi penerbit yang dipercaya bukan hanya karena menjual buku, tetapi karena kami menghormati setiap proses dan perjuangan penulis di baliknya,” ujar Hana Anindya pendiri Pustaka Devata. 

Hana juga menegaskan bahwa bagi Pustaka Devata, kepercayaan dibangun dari keterbukaan, kolaborasi, dan tanggung jawab dalam setiap proses kreatif. Proses penerbitan bukan hanya relasi transaksional antara penulis dan penerbit, tetapi harus menjadi kerja sama berbasis nilai dan kesadaran literasi.

“Kami menolak terburu-buru mengejar tren sesaat. karena saat ini banyak penerbit yang  terlalu fokus pada viralitas dan cepatnya perputaran judul, sehingga kadang mengorbankan kualitas konten. Oleh karena itu, Pustaka Devata lebih memilih bergerak perlahan dengan arah yang jelas untuk menerbitkan buku-buku yang kuat secara substansi, relevan secara sosial, dan bertahan dalam waktu, ” tambah Hana. 

Langkah-langkah awal yang telah disiapkan Pustaka Devata meliputi:

  1. Mentoring penulis pemula  untuk mendampingi proses penulisan naskah yang matang.
  2. Sistem penyuntingan kolaboratif, di mana penulis dilibatkan secara aktif dalam proses penyuntingan hingga layout.
  3. Forum diskusi daring dan offline  untuk mempertemukan penulis, editor, pembaca, dan penggiat literasi dalam dialog terbuka seputar tema dan tantangan dunia perbukuan.

“Kami percaya bahwa setiap kata yang dicetak memiliki tanggung jawab. Itulah mengapa kualitas adalah harga mati, dan kepercayaan adalah jembatan yang kami bangun pelan-pelan,” tutup Hana.

Dengan segala langkah ini, Pustaka Devata berharap dapat menjadi bagian dari gerakan literasi yang berkelanjutan — bukan hanya sebagai pelaku industri, tetapi sebagai penggerak perubahan sosial melalui kekuatan narasi.